Menanam Labu Kuning

Perawatan mudah dan harga stabil adalah iming iming yang membuat saya ingin menanam tanaman ini

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Membuat mikroorganisme lokal

Sangat sering kita mendengar atau membaca perihal mikroorganisme, yang paling banyak adalah dalam bidang kesehatan dan kini dalam bidang pertanian. Apakah yang dimaksud dengan mikroorganisme? Dibawah ini artikel yang dikutip dari wikipedia.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
"Cawan agar yang ditumbuhi mikroorganisme yang diisolasi dari perairan dalam.
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. Mikroorganisme disebut juga organisme mikroskopik. Mikroorganisme seringkali bersel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak (multiseluler) . Namun, beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Virus juga termasuk ke dalam mikroorganisme meskipun tidak bersifat seluler.
Ilmu yang mempelajari mikroorganisme disebut mikrobiologi. Orang yang bekerja di bidang ini disebut mikrobiolog.
Mikroorganisme biasanya dianggap mencakup semua prokariota, protista, dan alga renik. Fungi, terutama yang berukuran kecil dan tidak membentuk hifa, dapat pula dianggap sebagai bagiannya, meskipun banyak yang tidak menyepakatinya. Kebanyakan orang beranggapan bahwa yang dapat dianggap mikroorganisme adalah semua organisme sangat kecil yang dapat dibiakkan dalam cawan petri atau inkubator di dalam laboratorium dan mampu memperbanyak diri secara mitosis.
Mikroorganisme berbeda dengan sel makrooganisme. Sel makroorganisme tidak bisa hidup bebas di alam melainkan menjadi bagian dari struktur multiselular yang membentuk jaringan, organ, dan sistem organ. Sementara, sebagian besar mikrooganisme dapat menjalankan proses kehidupan dengan mandiri, dapat menghasilkan energi sendiri, dan bereproduksi secara independen tanpa bantuan sel lain"

Mikroorganisme Lokal
mikroorganisme lokal
Juga dari mesin pencari google sangat banyak pengertian dan tata cara pembuatan mikroorganisme. Yang ingin saya kemukakan disini adalah mikroorganisme lokal korea yang sudah di lokal kan karena ternyata mikroba itu ada di sekeliling kita. Mungkin judulnya kurang cocok karena pada kenyataannya tanpa membuatpun mikroba tersebut sudah ada. Kita hanya perlu mengambil dan mengembangbiakkannya.
Mikroorganisme yang saya maksud disini adalah mikroorganisme yang berada dibawah pepohonan atau rumpun bambu yang sudah berusia puluhan atau bahkan ratusan tahun. Dibawah pepohonan itu berkembang biak mikroorganisme yang memproses pelapukan daun daunan menjadi tanah. Perhatikanlah di tumpukan dedaunan dibawah pohon, akan terlihat seperti lapisan jamur berwarna putih, itulah yang membuktikan bahwa ada kehidupan di bawah rimbunnya pepohonan selama bertahun-tahun. Kita hanya perlu mengambil tumpukan dedaunan dan tanah lapisan bagian atas. Kita sudah mendapatkan mikroorganisme lokal untuk dapat dikembangbiakkan. Sudah selesai, hanya begitu saja cara mengambil mikroorganisme.
Bagaimana jika disekitar kita tidak ada hutan atau rumpun bambu? Kita bisa membuat mikroorganisme sendiri secara artifisial (menyerupai habitat aslinya) dengan cara sebagai berikut:
  • Kumpulkan dedaunan dalam suatu tempat (usahakan tidak terkena sinar matahari langsung)
  • Sambil menambahkan kumpulan dedaunan, setiap hari disiram dengan air.
  • Dengan perlakuan ini selama 4 minggu biasanya mikroorganisme sudah bisa diambil untuk dikembangbiakkan.
Cara lain pembuatan mikroorganisme lokal adalah dengan menggunakan media nasi sebagai berikut:
  • Siapkan wadah kotak kayu berukuran kira2 10x15cm (kalo tidak ada kotak kayu, saya pernah menggunakan misting anak saya).
  • Isi wadah dengan nasi kemudian tutup dengan kain berpori dan ikat sekeliling wadah.
  • Pergilah ke bawah pepohonan (hutan) atau rumpun bambu.
  • Gali sedikit tanah dibawah rimbunan tersebut kurang lebih 5cm, masukkan wadah yang telah berisi nasi dan ditutup dengan kain berpori, kemudia tutup dengan dedaunan. Untuk menghindari dari gangguan binatang-binatang lain bisa di tutup lagi dengan menggunakan kawat loket atau sejenisnya.
  • Setelah 3 hari periksalah wadah, akan terlihat kumpulan mikroba yang berwarna warni (putih, orange, hijau dan hitam) di permukaan nasi. Biasanya dikatakan bahwa yang berwarna hitam dikatakan patogen jahat, dan dikatakan jika warna dominan adalah hitam sebaiknya diulang dan diganti tempat pengambilannya. Tetapi sekali lagi saya adalah petani, bukan ahli patogen dan menurut saya warna itu tidak perlu di permasalahkan.
  • Nasi yang sudah bercampur mikroba tersebut kemudian dituangkan kedalam wadah lain dengan campuran larutan gula merah atau molase dengan perbandingan 1:1 dan di fermentasi selama 7 hari. Setelah 7 hari dapat digunakan sebagai starter pembuatan kompos alami
  • Penyimpanan diusahakan pada suhu 1 – 15 derajat (dalam kulkas). Jika tidak ada kulkas usahakan disimpan pada tempat gelap dan dingin.
Demikian artikel tentang pembuatan mikroorganisme lokal yang saya lakukan, saran dan kritik membangun dari sodara sodara sekalian sangat diharapkan demi perbaikan. Kalo saran dan kritiknya tidak membangun alias menghancurkan, saya tidak perlu! Karena jika untuk menghancurkan saya tidak perlu di ajari. Terima kasih.

Membuat Larutan Mikroorganisme lokal (MOL)

Di mesin pencari google bertebaran informasi tentang cara pembuatan pupuk organik cair dari berbagai material dan dari berbagai macam blog, yang sebagai starter utamanya adalah mikroorganisme lokal (MOL). Sebagian blog cukup komperehensif dalam pembahasan tentang cara pembuatan dan penggunaan larutan organik cair ini tetapi yang lebih banyaknya adalah salin tempel dari blog lain sehingga sebagian besar isinya hampir sama. Mungkin orang-orang perlu memperbanyak isi sebuah blog dengan judul yang berbeda-beda, tetapi itu adalah urusan mereka yang membuatnya, keperluan saya adalah menggunakannya sebagai bahan perbandingan untuk kemudian saya aplikasikan sendiri dengan cara saya. Salah satu teknologi pembuatan larutan mikroorganisme lokal yang saya salin adalah teknologi dari pertanian alami korea (selatan)!. Ternyata korea yang secara teknologi sudah sangat jauh meninggalkan negara kita tercinta ini masih menggunakan bahan alami sebagai bahan dasar pemupukan dalam sistem pertanian organik mereka. Mungkin karena teknologi alami ini cewek korea jadi bening bening.

Salah satu cara yang sangat sederhana dan hampir tidak mengeluarkan biaya dalam pembuatan larutan mikroorganisme lokal ini adalah dengan penggunaan bahan yang tersedia di sekitar kita. Ini adalah inti dari pertanian berbiaya rendah yang diterapkan di negeri asalnya mikroorganisme lokal ini, dimana dengan penggunaan bahan yang tersedia di sekitar kita secara otomatis akan menekan pengeluaran petani dan juga mengurangi ketergantungan petani kepada pabrik. Secara kasat mata kita dapat dengan mudah melihat kenyataan hidup sebagian besar petani di Indonesia yang hidupnya termarginalkan (walaupun ada juga yg sangat kaya raya). Biasanya yang membuat seseorang menjadi petani adalah keterpaksaan, bukan sebagai cita-cita, karena memang tidak ada jaminan bahwa menjadi petani dapat dijadikan sebagai mata pencaharian. Kembali ke pembahasan awal tentang pembuatan larutan mikroorganisme lokal yang berguna sebagai penyeimbang pertumbuhan adalah sebagai berikut:
  • Siapkan wadah (bisa drum atau ember) yang bertutup atau bisa ditutup
  • Isi dengan rumput-rumput liar di sekitar areal kebun/ladang sebanyak 3/4 dari wadah
  • Tambahkan air sampai hampir penuh (tidak ada ukuran pas, 3cm dari bibir atas wadah)
  • Masukkan segenggam mikroorganisme lokal dan tutup wadah untuk mengurangi evaporasi
  • Letakkan di areal pertanaman (untuk mencegah terjadinya perubahan suhu)
  • Tunggu sampai minimal 10 hari dan siap digunakan (semakin lama semakin baik)
  • Penggunaan bisa di kocor ataupun di semprot dengan pengenceran 20 – 300 kali.

Larutan mikroorganisme
Secara kasar, kandungan N dalam rumputan liar adalah sebanyak 1,5 – 2,5% (saya tidak pernah dan tidak tahu bagaimana mengukur kadarnya karena saya adalah seorang petani, mungkin tukang laboratorium dapat menjelaskannya secara ilmiah).

Selasa, 11 Oktober 2016

Penanaman labu kuning

Lahan tempat saya menanam jambe adalah lahan bekas penanaman terong ungu yang sudah sempat terlantar kurang lebih selama 3 tahun. Pembersihan lahan dilakukan dengan cara pemotongan belukar pengganggu sampai habis. Untuk semak yang relatif pendek disemprot dengan herbisida. Setelah benar benar kering dilakukan pembakaran untuk selanjutnya dilakukan pengolahan lobang tanam. Pengolahan yang saya maksudkan disini adalah sekedar penggemburan di tiap titik lobang tanam dengan jarak tanam 4 x 4 meter. Saya membuat lobang tanam dengan ukuran kurang lebih 0,5 x 0,5 x 0,3 meter. Langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah penaburan pupuk dasar, dalam hal ini pupuk dasar yang saya gunakan adalah kompos alami dan arang sekam masing masing sebanyak 1 kg dan didiamkan selama satu minggu. Setelah itu lobang tanam ditutup dengan tanah dari sekeliling lobang tanam dan dibentuk sedikit gundukan sebagai tempat meletakkan bibit labu. Biji labu kuning yang saya peroleh dari tetangga yang telah dikeringkan sebelumnya terlebih dahulu diberi perlakuan perendaman selama 6 jam. Selain untuk mempercepat proses perkecambahan bibit, proses ini juga untuk menyaring biji yang kualitasnya tidak bagus. Penanaman dilakukan cara membenamkan biji labu sedalam kurang lebih 3 cm sebanyak 3-6 buah per lobang tanam. Dari beberapa blog yang saya baca disarankan agar nanti setelah tumbuh dipilih 2 batang yang paling sehat dan sisanya di pencet atau dimatikan. Saya tidak memakai saran ini dan membiarkan semua bibit yang tumbuh. Saya hanya akan mematikan tanaman yang benar benar tidak normal dan pertumbuhannya berbeda jauh dengan teman-temannya.



Pada usia 10 sampai dengan 15 hari setelah tanam bibit labu sudah menunjukkan daunnya, langkah selanjutnya adalah penyiraman dan pemupukan pada awal usianya dengan menggunakan pupuk berkandungan N yang tinggi. Saya melakukan penyiraman dan pemupukan sekaligus dengan cara pengocoran menggunakan larutan alami rumahan. Walapun kadar N nya tidak setinggi pupuk urea saya percaya bahwa larutan yang saya aplikasikan dapat menggantikan atau setidaknya mengurangi penggunaan pupuk kimia. Hal ini semata mata adalah untuk memperkecil biaya produksi (namanya juga petani gurem).
Dari informasi yang saya dapatkan hasil dari googling, dikatakan bahwa tanaman jambe atau labu kuning membutuhkan asupan air yang cukup banyak yaitu minimal 1 inch per minggunya. (saya tidak tau persisnya berapa banyak 1 inch itu). Dikatakan juga bahwa labu kuning lebih suka penyiraman dengan model irigasi tetes (sedikit tp terus menerus) karena dengan sistem tetes ini air dapat meresap jauh kedalam tanah menuju perakaran. Hindari penyiraman lewat daun karena hal ini berpotensi mendatangkan bibit penyakit dari daun yang basah, kecuali dilakukan pada pagi hari yang artinya sebelum matahari tenggelam daun sudah kering kembali. Penyiraman sebaikanya dilakukan dengan cara menyiramkan air pada tanah disekeliling tanaman.

Budidaya labu kuning atau Jambe



Saya pernah membaca sebuah ungkapan dari petani Amerika dalam sebuah blog yang berbunyi “Jika ingin sukses sebagai petani, tanamlah pumpkin atau labu (kuning)”. Saya menerjemahkan ungkapan ini dalam arti yang sempit dimana dengan biji labu yang dapat diperoleh dari sisa penggunaan labu sebelumnya untuk kemudian ditanam lagi, dapat menghasilkan labu yang banyak. Perawatan yang relatif mudah membuat tanaman ini sangat berpotensi untuk dikembangkan penanamannya. Secara pribadi saya tidak (belum) pernah melihat penanaman labu kuning ini dalam skala besar. Dari semenjak kecil saya sudah mengenal buah ini (katanya labu kuning masuk dalam kategori buah) walaupun secara umum penggunaan yang paling sering saya lihat adalah sebagai sayuran. Dalam bahasa karo labu kuning disebut dengan jambe(i). Para petani di tempat tinggal saya menjadikan labu sebagai tanaman sampingan, biasanya bersamaan dengan penanaman jagung atau padi. Penanaman dilakukan hanya sekedarnya saja, mungkin karena gengsinya tidak sementereng tanaman lain yang padat modal seperti jeruk, cabai, tomat, kentang dan tanaman-tanaman mahal lainnya.

Penggunaan labu atau jambe di lingkungan tempat tinggal saya yang paling umum adalah dijadikan sebagai sayuran. Buah yang sudah tua berwarna kuning atau oranye ataupun buah yang masih muda berwarna hijau sangat umum dijadikan sayur. Demikian juga dengan pucuk muda dari tanaman ini sangat lumrah dijadikan sayuran. Orang Karo menyebut sayuran ini dengan nama taruk. Biji labu yang yang sudah dikeringkan sering juga dijadikan bahan pembuatan minuman herbal atau tawar maupun dijadikan sebagai sambel yang dalam bahasa karo disebut cina buah jambe. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan.

Dewasa ini penggunaan labu kuning di tengah masyarakat semakin beragam, baik di bidang kuliner, kesehatan dan bidang kosmetik sehingga peluang untuk mengembangkan penanaman labu ini semakin terbuka. Sebagai gambaran, dibawah ini saya pastekan kandungan gizi buah labu kuning sebagai berikut:

“Dengan berat 3-5 kg, labu kuning bisa berbentuk bulat pipih, lonjong, atau panjang, tergantung varietasnya. Buah muda berwarna hijau, sedangkan yang lebih tua berwarna kuning pucat. Warna kuning atau oranye daging buahnya pertanda kandungan karotenoidnya sangat tinggi. Karotenoid dalam buah labu sebagian besar berbentuk beta karoten. Apa saja zat gizi dalam labu:

Vitamin A dan beta karoten.
Beta karoten adalah pigmen warna kuning-oranye yang jika dicerna di dalam tubuh kita, akan berubah menjadi vitamin A. fungsi vitamin A dan beta karoten antara lain berguna bagai kesehatan mata dan kulit, kekebalan tubuh serta reproduksi. Selain itu, zat gizi ini mempunyai manfaat sebagai antiokasidan sehingga dapat mengutangi risiko terjadinya kanker dan penyakit jantung.

Vitamin C.
Salah satu jenis vitamin yang larut dalam air ini, sangat diperlukan untuk metabolisme tubuh. Vitamin C juga berperan pada fungsi kekebalan tubuh dan sebagai antioksidan.

Zat besi.
Zat gizi ini terutam diperlukan dalam pembentukan darah, khususnya hemoglobin (Hb). Makanan yang mengandung zat besi perlu, karena belak zat besi dari ibu saat bayi dilahirkan akan berangsur-angsur habis.

Kalium.
Fungsi utama kalium adalah menunjang kelancaran metabolisme tubuh. Hal ini penting dalam menjaga keseimbangan air dfan elektrolit (asam-basa) di dalam sel tubuh.

Kelebihan lain dari labu kuning adalah kandungan seratnya yang tinggi, bermanfaat mengurangi resiko sembelit. Di samping itu, kandungan lemak labu kuning juga rendah sehingga Anda taka perlu takut balita mengalami kegemukan asal dikonsumsi dalam jumlah yang wajar”.

Sementara itu, artikel dari https://id.wikipedia.org/wiki/Waluh menjelaskan sebagai berikut:

“Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucurbita L.
Spesies
C. argyrosperma
C. maxima
C. moschata
C. pepo

Waluh (Cucurbita) mencakup sekelompok tumbuhan merambat anggota suku labu-labuan (Cucurbitaceae) penghasil buah konsumsi berukuran besar bernama sama. Tumbuhan ini berasal dari benua Amerika, tetapi sekarang menyebar di banyak tempat yang memiliki iklim hangat.

Waluh mencakup beberapa spesies anggota genus Cucurbita, yaitu C. argyrosperma, C. maxima, C. moschata, dan C. pepo. Dalam beberapa pengertian setempat di Indonesia, waluh disebut sebagai "labu" saja, meskipun sebenarnya labu mencakup kelompok tanaman yang lebih luas, seperti labu air, labu ular, labu siam, dan beligo. Waluh dibedakan dari labu lainnya karena buahnya dimakan yang telah masak (biasanya berwarna jingga), berukuran relatif besar, berbentuk bulat sampai bulat telur dengan lekukan daun buah yang tampak jelas, dan berkulit keras. Pengertian waluh agak bermiripan dengan gabungan pumpkin dan beberapa squash dalam bahasa Inggris.

Buah waluh berwarna oranye karena mengandung beta-karotena (salah satu provitamin A dan juga sebagai antioksidan). Jika dipotong, buah ini mempunyai penampang yang mirip bintang, berbiji besar dan berwarna coklat atau putih. Daging buahnya renyah, rasanya manis dan sedikit asam. Daun muda waluh juga dapat dibuat sebagai sayur.

Peristilahan dan ciri khas
Waluh didatangkan ke Indonesia dari benua Amerika diperkirakan pada abad ke-19 oleh pemerintah kolonial, meskipun ada kemungkinan sebelumnya juga sudah diperkenalkan secara perorangan. Jenis yang tumbuh di Indonesia kebanyakan adalah C. moschata dan C. pepo. Jenis-jenis ini biasanya dibedakan dari buahnya.

Cucurbita pepo
Buah C. pepo biasanya relatif kecil dibandingkan dengan lainnya, dengan tangkai buah agak membesar di bagian perbatasan dengan buah, agak bersudut (berjumlah lima), dan tidak "tenggelam" ke dalam buah. Warna buahnya dapat hijau atau kuning, tidak selalu jingga. Zucchini termasuk dalam C. pepo dan baru diperkenalkan belakangan ke Indonesia, pada tahun 1980-an sebagai sayuran eksotik. Di Amerika Serikat, C. pepo dianggap sebagai pumpkin sejati dan mencakup

Cucurbita moschata
Buah C. moschata berukuran besar, keras kulitnya, cenderung berbentuk lonjong. Daging buahnya lunak dengan rasa mulai dari tawar sampai manis. Tangkai buah keras, bersudut, membesar di bagian dekat buah, dan "tenggelam" ke dalam buah. C. moschata mencakup kebanyakan waluh yang dikenal orang.

Cucurbita maxima
C. maxima mencakup banyak waluh berukuran besar sampai raksasa. Meskipun demikian, tumbuhan ini relatif kurang tahan kering dan panas dibandingkan jenis waluh lainnya. Batangnya lunak dan tangkai buahnya tidak membentuk sudut, tidak membesar di bagian dekat buah, dan sangat tenggelam.”

Menilik dari informasi diatas, kelihatannya peluang untuk mengembangkan tanaman ini walaupun dalam skala petani gurem seperti saya masih sangat terbuka, apalagi dengan iming-iming perawatan yang relatif mudah yang pada akhirnya akan berujung profit membuat saya bertekad untuk dapat mencoba menanam labu kuning. Berbekal ungkapan petani Amerika yang pernah saya baca di atas dan didukung dengan kebulatan tekad, akhirnya saya memutuskan untuk memulai budidaya labu kuning di lahan seluas kurang lebih 2000 meter.
Dapat dikatakan bahwa penanaman ini masih sama dengan yang dilakukan oleh nenek moyang saya berpuluh atau bahkan ratusan tahun yang lalu, yang membedakan hanya pada kuantitas penanaman saja. Para pendahulu saya menjadikan tanaman ini sebagai tanaman sampingan, saat ini saya menjadikan tanaman ini sebagai tanaman utama. Metode penanaman dan pengolahan lahan masih mengikuti cara tradisional yang saya dapatkan secara turun temurun, kecuali pada pemupukan yang akan sedikit lebih intensif. Pemupukan yang saya terapkan adalah kombinasi pupuk kimia dan pupuk alami. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara pengamatan. Penyemprotan dilakukan hanya jika serangan dirasa sudah membahayakan. Proses penanaman dan update progresnya akan di buat dalam postingan tersendiri. Trims