Selasa, 11 Oktober 2016

Budidaya labu kuning atau Jambe



Saya pernah membaca sebuah ungkapan dari petani Amerika dalam sebuah blog yang berbunyi “Jika ingin sukses sebagai petani, tanamlah pumpkin atau labu (kuning)”. Saya menerjemahkan ungkapan ini dalam arti yang sempit dimana dengan biji labu yang dapat diperoleh dari sisa penggunaan labu sebelumnya untuk kemudian ditanam lagi, dapat menghasilkan labu yang banyak. Perawatan yang relatif mudah membuat tanaman ini sangat berpotensi untuk dikembangkan penanamannya. Secara pribadi saya tidak (belum) pernah melihat penanaman labu kuning ini dalam skala besar. Dari semenjak kecil saya sudah mengenal buah ini (katanya labu kuning masuk dalam kategori buah) walaupun secara umum penggunaan yang paling sering saya lihat adalah sebagai sayuran. Dalam bahasa karo labu kuning disebut dengan jambe(i). Para petani di tempat tinggal saya menjadikan labu sebagai tanaman sampingan, biasanya bersamaan dengan penanaman jagung atau padi. Penanaman dilakukan hanya sekedarnya saja, mungkin karena gengsinya tidak sementereng tanaman lain yang padat modal seperti jeruk, cabai, tomat, kentang dan tanaman-tanaman mahal lainnya.

Penggunaan labu atau jambe di lingkungan tempat tinggal saya yang paling umum adalah dijadikan sebagai sayuran. Buah yang sudah tua berwarna kuning atau oranye ataupun buah yang masih muda berwarna hijau sangat umum dijadikan sayur. Demikian juga dengan pucuk muda dari tanaman ini sangat lumrah dijadikan sayuran. Orang Karo menyebut sayuran ini dengan nama taruk. Biji labu yang yang sudah dikeringkan sering juga dijadikan bahan pembuatan minuman herbal atau tawar maupun dijadikan sebagai sambel yang dalam bahasa karo disebut cina buah jambe. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan.

Dewasa ini penggunaan labu kuning di tengah masyarakat semakin beragam, baik di bidang kuliner, kesehatan dan bidang kosmetik sehingga peluang untuk mengembangkan penanaman labu ini semakin terbuka. Sebagai gambaran, dibawah ini saya pastekan kandungan gizi buah labu kuning sebagai berikut:

“Dengan berat 3-5 kg, labu kuning bisa berbentuk bulat pipih, lonjong, atau panjang, tergantung varietasnya. Buah muda berwarna hijau, sedangkan yang lebih tua berwarna kuning pucat. Warna kuning atau oranye daging buahnya pertanda kandungan karotenoidnya sangat tinggi. Karotenoid dalam buah labu sebagian besar berbentuk beta karoten. Apa saja zat gizi dalam labu:

Vitamin A dan beta karoten.
Beta karoten adalah pigmen warna kuning-oranye yang jika dicerna di dalam tubuh kita, akan berubah menjadi vitamin A. fungsi vitamin A dan beta karoten antara lain berguna bagai kesehatan mata dan kulit, kekebalan tubuh serta reproduksi. Selain itu, zat gizi ini mempunyai manfaat sebagai antiokasidan sehingga dapat mengutangi risiko terjadinya kanker dan penyakit jantung.

Vitamin C.
Salah satu jenis vitamin yang larut dalam air ini, sangat diperlukan untuk metabolisme tubuh. Vitamin C juga berperan pada fungsi kekebalan tubuh dan sebagai antioksidan.

Zat besi.
Zat gizi ini terutam diperlukan dalam pembentukan darah, khususnya hemoglobin (Hb). Makanan yang mengandung zat besi perlu, karena belak zat besi dari ibu saat bayi dilahirkan akan berangsur-angsur habis.

Kalium.
Fungsi utama kalium adalah menunjang kelancaran metabolisme tubuh. Hal ini penting dalam menjaga keseimbangan air dfan elektrolit (asam-basa) di dalam sel tubuh.

Kelebihan lain dari labu kuning adalah kandungan seratnya yang tinggi, bermanfaat mengurangi resiko sembelit. Di samping itu, kandungan lemak labu kuning juga rendah sehingga Anda taka perlu takut balita mengalami kegemukan asal dikonsumsi dalam jumlah yang wajar”.

Sementara itu, artikel dari https://id.wikipedia.org/wiki/Waluh menjelaskan sebagai berikut:

“Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucurbita L.
Spesies
C. argyrosperma
C. maxima
C. moschata
C. pepo

Waluh (Cucurbita) mencakup sekelompok tumbuhan merambat anggota suku labu-labuan (Cucurbitaceae) penghasil buah konsumsi berukuran besar bernama sama. Tumbuhan ini berasal dari benua Amerika, tetapi sekarang menyebar di banyak tempat yang memiliki iklim hangat.

Waluh mencakup beberapa spesies anggota genus Cucurbita, yaitu C. argyrosperma, C. maxima, C. moschata, dan C. pepo. Dalam beberapa pengertian setempat di Indonesia, waluh disebut sebagai "labu" saja, meskipun sebenarnya labu mencakup kelompok tanaman yang lebih luas, seperti labu air, labu ular, labu siam, dan beligo. Waluh dibedakan dari labu lainnya karena buahnya dimakan yang telah masak (biasanya berwarna jingga), berukuran relatif besar, berbentuk bulat sampai bulat telur dengan lekukan daun buah yang tampak jelas, dan berkulit keras. Pengertian waluh agak bermiripan dengan gabungan pumpkin dan beberapa squash dalam bahasa Inggris.

Buah waluh berwarna oranye karena mengandung beta-karotena (salah satu provitamin A dan juga sebagai antioksidan). Jika dipotong, buah ini mempunyai penampang yang mirip bintang, berbiji besar dan berwarna coklat atau putih. Daging buahnya renyah, rasanya manis dan sedikit asam. Daun muda waluh juga dapat dibuat sebagai sayur.

Peristilahan dan ciri khas
Waluh didatangkan ke Indonesia dari benua Amerika diperkirakan pada abad ke-19 oleh pemerintah kolonial, meskipun ada kemungkinan sebelumnya juga sudah diperkenalkan secara perorangan. Jenis yang tumbuh di Indonesia kebanyakan adalah C. moschata dan C. pepo. Jenis-jenis ini biasanya dibedakan dari buahnya.

Cucurbita pepo
Buah C. pepo biasanya relatif kecil dibandingkan dengan lainnya, dengan tangkai buah agak membesar di bagian perbatasan dengan buah, agak bersudut (berjumlah lima), dan tidak "tenggelam" ke dalam buah. Warna buahnya dapat hijau atau kuning, tidak selalu jingga. Zucchini termasuk dalam C. pepo dan baru diperkenalkan belakangan ke Indonesia, pada tahun 1980-an sebagai sayuran eksotik. Di Amerika Serikat, C. pepo dianggap sebagai pumpkin sejati dan mencakup

Cucurbita moschata
Buah C. moschata berukuran besar, keras kulitnya, cenderung berbentuk lonjong. Daging buahnya lunak dengan rasa mulai dari tawar sampai manis. Tangkai buah keras, bersudut, membesar di bagian dekat buah, dan "tenggelam" ke dalam buah. C. moschata mencakup kebanyakan waluh yang dikenal orang.

Cucurbita maxima
C. maxima mencakup banyak waluh berukuran besar sampai raksasa. Meskipun demikian, tumbuhan ini relatif kurang tahan kering dan panas dibandingkan jenis waluh lainnya. Batangnya lunak dan tangkai buahnya tidak membentuk sudut, tidak membesar di bagian dekat buah, dan sangat tenggelam.”

Menilik dari informasi diatas, kelihatannya peluang untuk mengembangkan tanaman ini walaupun dalam skala petani gurem seperti saya masih sangat terbuka, apalagi dengan iming-iming perawatan yang relatif mudah yang pada akhirnya akan berujung profit membuat saya bertekad untuk dapat mencoba menanam labu kuning. Berbekal ungkapan petani Amerika yang pernah saya baca di atas dan didukung dengan kebulatan tekad, akhirnya saya memutuskan untuk memulai budidaya labu kuning di lahan seluas kurang lebih 2000 meter.
Dapat dikatakan bahwa penanaman ini masih sama dengan yang dilakukan oleh nenek moyang saya berpuluh atau bahkan ratusan tahun yang lalu, yang membedakan hanya pada kuantitas penanaman saja. Para pendahulu saya menjadikan tanaman ini sebagai tanaman sampingan, saat ini saya menjadikan tanaman ini sebagai tanaman utama. Metode penanaman dan pengolahan lahan masih mengikuti cara tradisional yang saya dapatkan secara turun temurun, kecuali pada pemupukan yang akan sedikit lebih intensif. Pemupukan yang saya terapkan adalah kombinasi pupuk kimia dan pupuk alami. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara pengamatan. Penyemprotan dilakukan hanya jika serangan dirasa sudah membahayakan. Proses penanaman dan update progresnya akan di buat dalam postingan tersendiri. Trims

0 komentar:

Posting Komentar