Saya
pernah membaca sebuah ungkapan dari petani Amerika dalam sebuah blog
yang berbunyi “Jika ingin sukses sebagai petani, tanamlah pumpkin
atau labu (kuning)”. Saya menerjemahkan ungkapan ini dalam arti
yang sempit dimana dengan biji labu yang dapat diperoleh dari sisa
penggunaan labu sebelumnya untuk kemudian ditanam lagi, dapat
menghasilkan labu yang banyak. Perawatan yang relatif mudah membuat
tanaman ini sangat berpotensi untuk dikembangkan penanamannya. Secara
pribadi saya tidak (belum) pernah melihat penanaman labu kuning ini
dalam skala besar. Dari semenjak kecil saya sudah mengenal buah ini
(katanya labu kuning masuk dalam kategori buah) walaupun secara umum
penggunaan yang paling sering saya lihat adalah sebagai sayuran.
Dalam bahasa karo labu kuning disebut dengan jambe(i). Para
petani di tempat tinggal saya menjadikan labu sebagai tanaman
sampingan, biasanya bersamaan dengan penanaman jagung atau padi.
Penanaman dilakukan hanya sekedarnya saja, mungkin karena gengsinya
tidak sementereng tanaman lain yang padat modal seperti
jeruk, cabai, tomat, kentang dan tanaman-tanaman mahal lainnya.
Penggunaan
labu atau jambe di lingkungan tempat tinggal saya yang paling umum
adalah dijadikan sebagai sayuran. Buah yang sudah tua berwarna kuning
atau oranye ataupun buah yang masih muda berwarna hijau sangat umum
dijadikan sayur. Demikian juga dengan pucuk muda dari tanaman ini
sangat lumrah dijadikan sayuran. Orang Karo menyebut sayuran ini
dengan nama taruk.
Biji labu yang yang sudah dikeringkan sering juga dijadikan bahan
pembuatan minuman herbal atau tawar
maupun dijadikan sebagai sambel yang dalam bahasa karo disebut cina
buah jambe. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa semua bagian dari tanaman ini dapat
dimanfaatkan.
Dewasa ini penggunaan labu kuning di tengah masyarakat semakin
beragam, baik di bidang kuliner, kesehatan dan bidang kosmetik
sehingga peluang untuk mengembangkan penanaman labu ini semakin
terbuka. Sebagai gambaran, dibawah ini saya pastekan kandungan gizi
buah labu kuning sebagai berikut:
“Dengan berat 3-5 kg, labu kuning bisa berbentuk bulat pipih,
lonjong, atau panjang, tergantung varietasnya. Buah muda berwarna
hijau, sedangkan yang lebih tua berwarna kuning pucat. Warna kuning
atau oranye daging buahnya pertanda kandungan karotenoidnya sangat
tinggi. Karotenoid dalam buah labu sebagian besar berbentuk beta
karoten. Apa saja zat gizi dalam labu:
Vitamin A dan beta karoten.
Beta karoten adalah pigmen warna kuning-oranye yang jika dicerna di
dalam tubuh kita, akan berubah menjadi vitamin A. fungsi vitamin A
dan beta karoten antara lain berguna bagai kesehatan mata dan kulit,
kekebalan tubuh serta reproduksi. Selain itu, zat gizi ini mempunyai
manfaat sebagai antiokasidan sehingga dapat mengutangi risiko
terjadinya kanker dan penyakit jantung.
Vitamin C.
Salah satu jenis vitamin yang larut dalam air ini, sangat diperlukan
untuk metabolisme tubuh. Vitamin C juga berperan pada fungsi
kekebalan tubuh dan sebagai antioksidan.
Zat besi.
Zat gizi ini terutam diperlukan dalam pembentukan darah, khususnya
hemoglobin (Hb). Makanan yang mengandung zat besi perlu, karena belak
zat besi dari ibu saat bayi dilahirkan akan berangsur-angsur habis.
Kalium.
Fungsi utama kalium adalah menunjang kelancaran metabolisme tubuh.
Hal ini penting dalam menjaga keseimbangan air dfan elektrolit
(asam-basa) di dalam sel tubuh.
Kelebihan lain dari labu kuning adalah kandungan seratnya yang
tinggi, bermanfaat mengurangi resiko sembelit. Di samping itu,
kandungan lemak labu kuning juga rendah sehingga Anda taka perlu
takut balita mengalami kegemukan asal dikonsumsi dalam jumlah yang
wajar”.
Sementara
itu, artikel dari https://id.wikipedia.org/wiki/Waluh
menjelaskan sebagai berikut:
“Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Klasifikasi
ilmiah
Kerajaan :
Plantae
Divisi :
Magnoliophyta
Kelas :
Magnoliopsida
Ordo :
Cucurbitales
Famili :
Cucurbitaceae
Genus :
Cucurbita L.
Spesies
C.
argyrosperma
C.
maxima
C.
moschata
C.
pepo
Waluh
(Cucurbita) mencakup sekelompok tumbuhan merambat anggota suku
labu-labuan (Cucurbitaceae) penghasil buah konsumsi berukuran besar
bernama sama. Tumbuhan ini berasal dari benua Amerika, tetapi
sekarang menyebar di banyak tempat yang memiliki iklim hangat.
Waluh
mencakup beberapa spesies anggota genus Cucurbita, yaitu C.
argyrosperma, C. maxima, C. moschata, dan C. pepo. Dalam beberapa
pengertian setempat di Indonesia, waluh disebut sebagai "labu"
saja, meskipun sebenarnya labu mencakup kelompok tanaman yang lebih
luas, seperti labu air, labu ular, labu siam, dan beligo. Waluh
dibedakan dari labu lainnya karena buahnya dimakan yang telah masak
(biasanya berwarna jingga), berukuran relatif besar, berbentuk bulat
sampai bulat telur dengan lekukan daun buah yang tampak jelas, dan
berkulit keras. Pengertian waluh agak bermiripan dengan gabungan
pumpkin dan beberapa squash dalam bahasa Inggris.
Buah
waluh berwarna oranye karena mengandung beta-karotena (salah satu
provitamin A dan juga sebagai antioksidan). Jika dipotong, buah ini
mempunyai penampang yang mirip bintang, berbiji besar dan berwarna
coklat atau putih. Daging buahnya renyah, rasanya manis dan sedikit
asam. Daun muda waluh juga dapat dibuat sebagai sayur.
Peristilahan
dan ciri khas
Waluh
didatangkan ke Indonesia dari benua Amerika diperkirakan pada abad
ke-19 oleh pemerintah kolonial, meskipun ada kemungkinan sebelumnya
juga sudah diperkenalkan secara perorangan. Jenis yang tumbuh di
Indonesia kebanyakan adalah C. moschata dan C. pepo. Jenis-jenis ini
biasanya dibedakan dari buahnya.
Cucurbita
pepo
Buah
C. pepo biasanya relatif kecil dibandingkan dengan lainnya, dengan
tangkai buah agak membesar di bagian perbatasan dengan buah, agak
bersudut (berjumlah lima), dan tidak "tenggelam" ke dalam
buah. Warna buahnya dapat hijau atau kuning, tidak selalu jingga.
Zucchini termasuk dalam C. pepo dan baru diperkenalkan belakangan ke
Indonesia, pada tahun 1980-an sebagai sayuran eksotik. Di Amerika
Serikat, C. pepo dianggap sebagai pumpkin sejati dan mencakup
Cucurbita
moschata
Buah
C. moschata berukuran besar, keras kulitnya, cenderung berbentuk
lonjong. Daging buahnya lunak dengan rasa mulai dari tawar sampai
manis. Tangkai buah keras, bersudut, membesar di bagian dekat buah,
dan "tenggelam" ke dalam buah. C. moschata mencakup
kebanyakan waluh yang dikenal orang.
Cucurbita
maxima
C.
maxima mencakup banyak waluh berukuran besar sampai raksasa. Meskipun
demikian, tumbuhan ini relatif kurang tahan kering dan panas
dibandingkan jenis waluh lainnya. Batangnya lunak dan tangkai buahnya
tidak membentuk sudut, tidak membesar di bagian dekat buah, dan
sangat tenggelam.”
Menilik
dari informasi diatas, kelihatannya peluang untuk mengembangkan
tanaman ini walaupun dalam skala petani gurem seperti saya masih
sangat terbuka, apalagi dengan iming-iming perawatan yang relatif
mudah yang pada akhirnya akan
berujung profit membuat saya bertekad untuk dapat mencoba menanam
labu kuning. Berbekal ungkapan petani Amerika yang pernah saya baca
di atas dan didukung dengan kebulatan tekad, akhirnya saya memutuskan
untuk memulai budidaya labu kuning di lahan seluas kurang lebih 2000
meter.
Dapat
dikatakan bahwa penanaman ini masih sama dengan yang dilakukan oleh
nenek moyang saya berpuluh atau bahkan ratusan tahun yang lalu, yang
membedakan hanya pada kuantitas penanaman saja. Para pendahulu saya
menjadikan tanaman ini sebagai tanaman sampingan, saat ini saya
menjadikan tanaman ini sebagai tanaman utama. Metode penanaman dan
pengolahan lahan masih mengikuti cara tradisional yang saya dapatkan
secara turun temurun, kecuali pada pemupukan yang akan sedikit lebih
intensif. Pemupukan yang saya terapkan adalah kombinasi pupuk kimia
dan pupuk alami.
Pengendalian hama dan
penyakit dilakukan dengan cara pengamatan. Penyemprotan dilakukan
hanya jika serangan dirasa sudah membahayakan. Proses penanaman dan
update progresnya akan di buat dalam postingan tersendiri. Trims







0 komentar:
Posting Komentar